Hari Lahir Pancasila 2026: Menjaga Warisan Pendiri Bangsa, Menguatkan Persatuan untuk Indonesia dan Dunia
Oleh: Cak Fahriansyah
Tema tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa dan dunia saat ini. Ketika berbagai negara masih dihadapkan pada konflik, perpecahan sosial, serta krisis kemanusiaan, Indonesia memiliki modal kebangsaan yang sangat berharga, yaitu Pancasila. Sejak awal kelahirannya, Pancasila dirancang sebagai jalan tengah yang mampu mempersatukan keberagaman suku, agama, budaya, dan golongan dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU), kita memahami bahwa hubungan antara agama dan negara telah dirumuskan secara bijaksana oleh para ulama dan pendiri bangsa. Para muasis NU, seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan para ulama pejuang lainnya, telah memberikan teladan bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kemaslahatan umat.
Semangat kebangsaan tersebut kemudian diteruskan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam berbagai pemikirannya mengenai Pancasila dan kehidupan beragama, Gus Dur menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran agama. Secara teoritis, kedudukan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara tidak mengancam kebenaran teologis agama. Sebaliknya, Pancasila menjadi ruang bersama yang memungkinkan seluruh warga negara hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, serta bekerja sama membangun bangsa.
Bagi Nahdlatul Ulama, menerima dan menjaga Pancasila bukanlah bentuk kompromi terhadap agama, melainkan tanggung jawab kebangsaan untuk merawat persatuan dan keutuhan Indonesia.
Pancasila dan Tantangan Generasi Masa Kini
Di era digital, tantangan yang dihadapi generasi muda sangat berbeda dengan generasi pejuang kemerdekaan. Masyarakat kini berhadapan dengan arus informasi yang begitu cepat, maraknya hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, intoleransi, hingga memudarnya budaya gotong royong.
Dalam situasi tersebut, nilai-nilai Pancasila justru semakin penting untuk dihidupkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan akhlak, moralitas, dan integritas.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menumbuhkan empati serta kepedulian terhadap sesama.
Sila Persatuan Indonesia mengajarkan penghormatan terhadap keberagaman.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan menanamkan budaya musyawarah dan kebijaksanaan.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengajarkan keberpihakan pada kesejahteraan bersama.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, yakni tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil).
Dari Hulu Sungai Tengah untuk Indonesia
Sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Persatuan bangsa tidak cukup dijaga melalui slogan dan kata-kata. Persatuan harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, semangat gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, kesediaan membantu sesama, serta keaktifan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Sebagaimana semangat para ulama pendiri bangsa yang telah meletakkan fondasi persatuan Indonesia, generasi masa kini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut melalui akhlak yang baik, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Pancasila adalah warisan luhur para pendiri bangsa yang harus terus dirawat. Jika para ulama dahulu berjuang mempersatukan Indonesia dalam keberagaman, maka tugas generasi hari ini adalah menjaga persatuan itu dengan akhlak, ilmu, dan pengabdian.”
Mari menjadikan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 sebagai momentum untuk memperkuat persaudaraan, memperkokoh komitmen kebangsaan, serta menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan demi Indonesia yang maju, damai, dan bermartabat.
Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026
“Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”

Posting Komentar