PCNU HST: Rukyatul Hilal 1 Syawal 1447 H di HST, Perkuat Persatuan di Tengah Perbedaan Metode

Table of Contents


Labuan Amas Utara, PCNU HST 

Dalam upaya menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus memperkuat persatuan umat, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) bersama Pengurus Organisasi Kemasyarakatan Islam yakni Nahdlatul Ulama (NU) kab. HST dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah HST melaksanakan kegiatan rukyatul hilal penentuan awal 1 Syawal 1447 H di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kamis (19/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pejabat Kantor Kementerian Agama HST, para ulama, tokoh masyarakat, serta organisasi keagamaan. Turut hadir Katib Syuriyah PCNU HST KH. Muhammad Noor, Wakil Ketua Tanfidziah PCNU HST Fahriansyah, Wakil Sekretaris PCNU HST Irsyadul Insan, serta perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten HST Muhammad DN.

Pelaksanaan kegiatan dipimpin oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag HST, Muhammad Akhriadi. Ia menegaskan bahwa rukyatul hilal merupakan bagian penting dari implementasi ajaran Islam yang mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menentukan waktu ibadah, khususnya awal dan akhir bulan hijriah.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Tanfidziah PCNU HST, Fahriansyah, menyampaikan pandangan mendalam terkait makna rukyat dalam perspektif keilmuan Islam. Ia menjelaskan bahwa istilah “rukyat” dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ tidak semata dimaknai sebagai aktivitas melihat hilal, tetapi juga mengandung dimensi bashariyah, yakni keterlibatan langsung pengalaman inderawi manusia.

“Makna bashariyah ini menegaskan bahwa rukyat bukan sekadar hasil perhitungan, melainkan proses kesaksian yang hidup, yang menghubungkan manusia dengan tanda-tanda kebesaran Allah di langit. Di sinilah kebijaksanaan syariat, yang mengajarkan keseimbangan antara rasionalitas (hisab) dan spiritualitas (rukyat),” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen umat termasuk warga Nahdlatul Ulama, aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), serta komunitas GUSDURian Barabai untuk menjadikan perbedaan metode sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Hisab adalah buah kemajuan ilmu pengetahuan, sementara rukyat adalah bentuk kehati-hatian dalam mengikuti sunnah. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling menguatkan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan pesan para ulama:
“Al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah”
(menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).


Rukyatul hilal dilaksanakan dengan menggunakan alat bantu optik untuk mengamati posisi hilal di ufuk barat saat matahari terbenam. Selain sebagai penentuan awal bulan Syawal, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat agar memahami metode rukyat dan hisab secara arif dan bijaksana.

Kegiatan ini mendapat apresiasi luas karena mampu menghadirkan harmoni antara pemerintah, ulama, dan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan. Dari ufuk Sungai Buluh, bukan hanya hilal yang dinanti, tetapi juga tumbuhnya kesadaran kolektif untuk terus menjaga persatuan dalam keberagaman.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan penuh kasih sayang semakin mengakar di tengah kehidupan masyarakat Hulu Sungai Tengah.

Posting Komentar